Rahmad Taufik Dalimunthe Angkat Bicara Terkait "Guru Berikan Hukuman Cubitan Terhadap Murid"


 Tapanuli Selatan,-

Polemik atas dugaan hukuman berupa cubitan terhadap sejumlah siswa di SD Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, mendapat perhatian dari Rahmad Taufiq Dalimunthe. Rabu (12/08/2026)

Rahmad menyatakan dukungan moral kepada guru Pendidikan Agama Islam SD Garoga yang saat ini menjadi sorotan. Ia meminta persoalan tersebut tidak serta-merta menghapus sisi pengabdian dan niat mendidik seorang guru.

“Saya mendukung guru agama SD Garoga tersebut. Semangat, Bu Guru. Niatmu mungkin baik. Semoga perjuanganmu dalam mendidik anak-anak menjadi amal jariah bagimu dan bagi seluruh guru yang setiap hari mengabdikan diri mencerdaskan generasi bangsa,” Ujar Rahmad.

Menurut Rahmad, persoalan tersebut perlu dilihat secara proporsional. Jika terdapat tindakan yang tidak sesuai dalam proses mendidik, tentu harus menjadi bahan evaluasi. Namun, kata dia, masyarakat juga perlu memahami bahwa guru memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kedisiplinan dan karakter peserta didik.

“Jangan sampai kita hanya melihat satu sisi. Guru memiliki tanggung jawab mendidik, sementara orang tua memiliki tanggung jawab membentuk karakter anak di rumah. Keduanya harus berjalan bersama,” katanya.

Rahmad juga menyoroti perubahan perilaku anak di tengah lunturnya nilai-nilai budaya dan pendidikan moral.

Menurutnya, masyarakat Angkola dahulu memiliki filosofi “anakmi, anakku”, yang mengandung makna bahwa anak bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tua kandung, tetapi juga menjadi tanggung jawab sosial masyarakat.

“Kalau anakmu salah, saya ikut menegur dan mendidiknya. Kalau anak saya salah, engkau juga boleh mengingatkan. Itu bukan permusuhan, tetapi bentuk kepedulian,” ujarnya.

Ia menilai nilai tersebut semakin penting di tengah kondisi ketika sebagian anak dinilai semakin kurang menghormati guru dan orang yang lebih tua.

“Kalau ada anak yang mengolok-olok guru, tidak sopan atau melakukan tindakan yang merendahkan gurunya, tentu itu juga harus dikoreksi. Jangan sampai karena guru sedang menjadi sorotan, kemudian kesalahan anak kita abaikan,” tegas Rahmad.

Namun, Rahmad menekankan bahwa mendukung guru tidak berarti membenarkan kekerasan dalam pendidikan.

“Guru harus dihormati, tetapi anak juga harus dilindungi. Ketegasan dalam mendidik penting, tetapi harus tetap manusiawi. Kalau ada tindakan yang melampaui batas, tentu harus dievaluasi,” katanya.

Ia berharap polemik di SD Garoga tidak berkembang menjadi konflik antara orang tua dan guru. Sebaliknya, kasus tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali hubungan antara keluarga, sekolah dan masyarakat.

“Jangan guru berhadapan dengan orang tua, jangan orang tua berhadapan dengan guru. Kita harus sama-sama melihat kepentingan anak. Yang kita inginkan bukan hanya anak yang pintar secara akademik, tetapi anak yang memiliki adab, sopan santun dan moral,” ujar Rahmad.

Rahmad kemudian mengingatkan kembali ungkapan kearifan lokal Angkola:

“Salaklah sasikkoru, sa anak saboru, suang songon namarsada ina.”

Menurutnya, ungkapan tersebut mencerminkan semangat masyarakat untuk melihat anak sebagai bagian dari keluarga besar dan menjadi tanggung jawab bersama.

“Kalau nilai itu kita hidupkan kembali, kita tidak akan mudah saling menyalahkan. Ketika anak salah, kita tegur dengan kasih sayang. Ketika guru salah, kita koreksi dengan bijaksana. Semua demi masa depan anak-anak kita,” katanya.

Rahmad juga menyampaikan pesan khusus kepada para guru yang masih menjalankan tugas di tengah berbagai tantangan.

“Untuk seluruh guru, jangan pernah lelah mendidik. Mungkin tidak semua kebaikan guru terlihat hari ini. Tetapi setiap ilmu yang diberikan, setiap nasihat yang disampaikan, dan setiap anak yang berhasil menjadi manusia baik, insyaallah menjadi amal yang terus mengalir,” pungkasnya.

“Semangat, Bu Guru. Jika niatmu adalah mendidik dan membentuk generasi yang lebih baik, semoga Allah membalas setiap pengabdianmu dengan kebaikan dan menjadikannya amal jariah.”(andry)



Posting Komentar

0 Komentar