Berturut-turut dari bulan Juni hingga Oktober 2026, kekerasan pada anak berkebutuhan khusus dilakukan oleh orang - orang yang tidak berperasaan. Dari mulai bullying pukulan, disetrika, dilecehkan bahkan hingga dibunuh.
Kita ingat dulu di zaman Nazi Hitler, anak-anak disabilitas dan berkebutuhan khusus "dimusnahkan" karena dianggap cacat produksi sebagai ujung tombak kemajuan bangsa dan tidak bersesuaian dengan ras unggulan bangsa Arya.
Ironisnya budaya nazi itu berkembang di Indonesia. Tak peduli mau itu di asrama maupun lingkungan, tidak ada lagi ruang aman buat anak - anak kami yang berkebutuhan khusus.
Ironisnya hari ini para pelaku kekerasan tersebut juga dilakukan oleh anak - anak juga. Teman sebaya yang harusnya jadi tempat lingkungan untuk anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus -Red) belajar beradaptasi kini jadi zona predator buat anak-anak berkebutuhan khusus.
Dengarkan lah suara kami wahai yang punya telinga. Apakah kalian mengira anak-anak kami atau kami menginginkan kondisi ini. Pagi hari kami harus bangun sebelum anak kami yang berkebutuhan khusus itu bangun.
Kami harus berjaga dan tidak boleh tidur sebelum anak kami tersebut tidur. Di Tengah kepungan kesenjangan sosial dan minimnya dukungan. Kami harus memikirkan terapi buat anak - anak kami.
Tahukah kalian , jika anak - anak kami tidur siang maka itu berarti kami harus berjaga setiap malam ? Tahukah kalian sedikit saja sentuhan yang tidak nyaman buat anak-anak kami akan buat mereka menjadi badmood dan meltdown.
Tahukah kalian sulitnya kami mencari fasilitas di ruang publik yang ramah disabilitas. Tahukah kalian bagaimana hari ini kalau kami mengharapkan pusat terapi untuk anak kami itu artinya kami harus ke RS tipe A yang biasanya hanya ada di ibukota provinsi.
Tahukah kalian SLB Negeri yang representatif itu amat minim termasuk di daerah. Tahukah kalian jika kami harus menempuh puluhan kilometer hanya untuk jika ingin menterapi anak kami yang kisaran waktunya hanya 1 atau 2 jam saja ?
Tahukah kalian setiap senyum yang penuh keheranan, bisik - bisik dan tindakan kalian yang ambigu itu membuat kami terkadang merasa "tersisihkan dan dianggap gagal sebagai orang tua"?.
Dan jika kami harus menterapi di fasilitas swasta. Itu artinya kami harus mengeluarkan jutaan rupiah tiap bulan sementara kami mayoritas adalah bukan berkemampuan.
Kami ikut membayar pajak tapi tahukah kalian bagaimana para orang tua ABK hari ini banyak frustasi karena mereka tidak ada tempat konsultasi membawa anak-anak mereka untuk berlatih kemandirian di lingkungan terdekatnya.
Jika kalian tidak bisa mendukung, minimal didik lingkungan dan keluarga kalian untuk tidak bersikap pandangan mata yang "penuh selidik" dan cegah melakukan bullying untuk anak-anak kami yang ABK.
Hari ini kami orang tua bertarung, banyak dari kami tidak bisa bersuara bukan karena tak punya lidah. Sebagian besar sudah patah arang dengan keberpihakan real para pimpinan di negeri ini. Sebagian lagi hari-harinya sudah terkurung dalam mencari nafkah dan menjaga anak -anak yang istimewa ini.
Tidak banyak padahal yang kami harapkan ; lingkungan dan fasilitas tumbuh kembang sosial dan ruang tenang buat anak - anak kami saja. Tidak lebih.
Jadi mohon jangan lakukan bullying dalam bentuk apapun pada anak - anak kami. Jangan jadi penerus budaya NAZI di negeri ini ketika berhadapan dengan para ABK kami.

0 Komentar